PERIKLANAN INDONESIA 1744 - 1984
Periklanan Tahun 1960 - 1972
Pada periode ini, perkembangan dunia usaha sudah jauh berbeda dengan situasi zaman kolonial.
Organisasi dan pengelolaan perusahaan-perusahaan yang semula kecil dan sederhana, telah berkembang menjadi besar dan kompleks. Termasuk yang terdapat pada perusahaan-perusahaan periklanan. Telah mulai pula diakui peran dan fungsinya sebagai kepanjangan (extension) dari bagian Pemasaran di perusahaan-perusahaan pengiklan. Bahkan seorang praktisi Pemasaran berani menyatakan, bahwa sukses (baca: efisien dan menguntungkan) pengelolaan suatu perusahaan besar dalam iklim ekonomi saat itu, meletakkan manajemen periklanan sebagai pemegang tanggung jawab terberat. (64) Bahwa dengan menajemen periklanan yang baik, sebuah perusahaan akan mampu beradaptasi lebih jauh ke depan. Karena manajemen periklanan membuat perusahaan bukan saja akan menguasai perencanaan dan organisasinya, namun juga pelaksanaan tugas dan pengendaliannya.
AWAL ORDE BARU
Sementara itu, perusahaan-perusahaan periklanan lainnya pun mulai berkembang. Beberapa perusahaan baru yang cukup besar ikut pula meramaikan periklanan di Indonesia. Produk-produk impor meskipun tidak cukup banyak untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang meningkat, tetapi masih lebih banyak dibandingkan situasi sebelum tahin 1960.
Situasi ini tidak bertahan lama, karena sejak tahun 1963 perekonomian Indonesia ternyata semakin parah. Produk-produk impor pun menurun tajam terjadinya konfrontasi politik dengan negara-negara industri utama saat itu, khususnya dengan negara-negara Eropa dan Amerika Serikat. Konfrontasi ini berdampak langsung terhadap perekonomian negara. Hutang luar negeri relatif sangat tinggi dan inflasi pun merajalela hingga ke puncaknya ketika mencapai sekitar 65%. Dalam situasi seperti itu, tentu sulit bagi sesuatu perusahaan untuk dapat berkembang. Begitu pula yang terjadi dengan perusahaan-perusahaan periklanan. Kalau terjadi peningkatan, namun dengan situasi moneter yang sangat buruk, tentu saja setiap perkembangan yang terjadi di suatu perusahaan menjadi semu sifatnya. Situasi ini berjalan terus hingga tahin 1966, awal munculnya pemerintah Orde Baru di bawah pimpinan Jenderal Soeharto.
PERINTIS PERIKLANAN MODERN
Orde Baru ternyata cukup sigap mengembalikan kestabilan politik dan ekonomi dalam negeri. Selain berupaya keras mengendalikan inflasi, Pemerintah juga membuka peluang sebesar-besarnya bagi investasi baru. Konfrontasi dengan negara-negara liberal pun lambat-laun dihapuskan dan membuka lagi peluang bagi perdagangan luar-negeri yang lebih terbuka dan dinamis. Lebih lagi setelah Undang-undang Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) disahkan, telah sangat merangsang investasi dalam negeri dan menjamin adanya kepastian berusaha.
Di tahun 1967, tahun yang sama dengan dikeluarkannya Undang-undang PMDN tersebut, di Jakarta lahir perusahaan periklanan InterVisa Ltd. Inc., yang didirikan dan dikelola oleh Nuradi. InterVisa dianggap sebagai perintis periklanan modern di Indonesia. InterVisa pula yang dianggap menjadi perusahaan periklanan pertama yang beroperasi dalam kapasitas pelayanan periklanan menyeluruh (full service advertising agency).
Setahun setelah diundangkannya Undang-undang PMDN, dikeluarkan pula Undang-undang Penanaman Modal Asing (PMA) yang mengatur tata cara penanaman modal asing di Indonesia. Undang-undang ini bukan saja memberi jiwa keterbukaan pada masuknya modal asing, tetapi juga telah lebih merangsang lagi peningkatan investasi di Indonesia. Undang-undang PMA ini bahkan memberi dampak langsung pada peningkatan tajam bisnis periklanan. Investasi oleh para pemodal asing rupanya membawa konsekuensi lain bagi periklanan. Para pemodal ini yang umumnya sudah terbiasa dengan sistem perekonomian dan perdagangan liberal, rupanya menuntut adanya pula sarana promosi dan periklanan yang baik di Indonesia.
Para praktisi periklanan umumnya berpendapat ada hubungan langsung antara aspek -aspek investasi,dan periklanan dalam arti yang luas. Karena itu, tuntutan para investor asing ini tentu saja wajar untuk mengamankan investasi mereka,dengan meningkatkan efisiensi produksi(mencapai tingkat skala ekonomi tertentu ) dan dengan dukungan promosi dan periklanan menjamin tercapainya sasaran-sasaran pemasara barang atau jasa yang mereka hasilkan. (Penyusun).
Sebagai perusahaan periklanan modern. InterVisa juga tercatat aktif dalam membantu kampanye-kampanye pemasaran sosial ( social marketing ) atau periklanan layanan masyarakat (public service advertising). Kampanye-kampanye ini merupakan sesuatu ayng baru bagi masyarakat Indonesia di masa itu.
Salah satu karya besar InterVisa yang bahkan tetap digunakan hingga saat ini adalah Kartu Menuju Sehat. Sebuah petunjuk sangat praktis bagi para ibu untuk memeriksa dan merawat kesehatan bayinya.
Munculnya InterVisa rupanya menjadi katalis bagi lahirnya banyak lagi perusahaan periklanan modern di Indonesia. Bahkan tahun 1969 berdiri pula Benson SH Ltd., perusahaan periklanan pertama yang berafiliasi dengan perusahaan periklanan asing di Indonesia. Perusahaan periklanan ini tadinya sekedar merupakan afilasi dari perusahaan yang sama di Singapura, tetapi kemudian dikembangkan menjadi afiliasi langsung dengan perusahaan periklanan induknya di New York dan berubah nama menjadi Ogilvy Benson & Mather Indonesia. Selanjutnya karena ada peraturan yang tidak mengizinkan perusahaan periklanan asing Indonesia, perusahaan ini mengubah statusnya menjadi perusahaan Indonesia, sekaligus mengganti namanya menjadi PT Indo Ad .
Sumber : www.pppi.or.id
Pada periode ini, perkembangan dunia usaha sudah jauh berbeda dengan situasi zaman kolonial.
Organisasi dan pengelolaan perusahaan-perusahaan yang semula kecil dan sederhana, telah berkembang menjadi besar dan kompleks. Termasuk yang terdapat pada perusahaan-perusahaan periklanan. Telah mulai pula diakui peran dan fungsinya sebagai kepanjangan (extension) dari bagian Pemasaran di perusahaan-perusahaan pengiklan. Bahkan seorang praktisi Pemasaran berani menyatakan, bahwa sukses (baca: efisien dan menguntungkan) pengelolaan suatu perusahaan besar dalam iklim ekonomi saat itu, meletakkan manajemen periklanan sebagai pemegang tanggung jawab terberat. (64) Bahwa dengan menajemen periklanan yang baik, sebuah perusahaan akan mampu beradaptasi lebih jauh ke depan. Karena manajemen periklanan membuat perusahaan bukan saja akan menguasai perencanaan dan organisasinya, namun juga pelaksanaan tugas dan pengendaliannya.
AWAL ORDE BARU
Sementara itu, perusahaan-perusahaan periklanan lainnya pun mulai berkembang. Beberapa perusahaan baru yang cukup besar ikut pula meramaikan periklanan di Indonesia. Produk-produk impor meskipun tidak cukup banyak untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang meningkat, tetapi masih lebih banyak dibandingkan situasi sebelum tahin 1960.
Situasi ini tidak bertahan lama, karena sejak tahun 1963 perekonomian Indonesia ternyata semakin parah. Produk-produk impor pun menurun tajam terjadinya konfrontasi politik dengan negara-negara industri utama saat itu, khususnya dengan negara-negara Eropa dan Amerika Serikat. Konfrontasi ini berdampak langsung terhadap perekonomian negara. Hutang luar negeri relatif sangat tinggi dan inflasi pun merajalela hingga ke puncaknya ketika mencapai sekitar 65%. Dalam situasi seperti itu, tentu sulit bagi sesuatu perusahaan untuk dapat berkembang. Begitu pula yang terjadi dengan perusahaan-perusahaan periklanan. Kalau terjadi peningkatan, namun dengan situasi moneter yang sangat buruk, tentu saja setiap perkembangan yang terjadi di suatu perusahaan menjadi semu sifatnya. Situasi ini berjalan terus hingga tahin 1966, awal munculnya pemerintah Orde Baru di bawah pimpinan Jenderal Soeharto.
PERINTIS PERIKLANAN MODERN
Orde Baru ternyata cukup sigap mengembalikan kestabilan politik dan ekonomi dalam negeri. Selain berupaya keras mengendalikan inflasi, Pemerintah juga membuka peluang sebesar-besarnya bagi investasi baru. Konfrontasi dengan negara-negara liberal pun lambat-laun dihapuskan dan membuka lagi peluang bagi perdagangan luar-negeri yang lebih terbuka dan dinamis. Lebih lagi setelah Undang-undang Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) disahkan, telah sangat merangsang investasi dalam negeri dan menjamin adanya kepastian berusaha.
Di tahun 1967, tahun yang sama dengan dikeluarkannya Undang-undang PMDN tersebut, di Jakarta lahir perusahaan periklanan InterVisa Ltd. Inc., yang didirikan dan dikelola oleh Nuradi. InterVisa dianggap sebagai perintis periklanan modern di Indonesia. InterVisa pula yang dianggap menjadi perusahaan periklanan pertama yang beroperasi dalam kapasitas pelayanan periklanan menyeluruh (full service advertising agency).
Setahun setelah diundangkannya Undang-undang PMDN, dikeluarkan pula Undang-undang Penanaman Modal Asing (PMA) yang mengatur tata cara penanaman modal asing di Indonesia. Undang-undang ini bukan saja memberi jiwa keterbukaan pada masuknya modal asing, tetapi juga telah lebih merangsang lagi peningkatan investasi di Indonesia. Undang-undang PMA ini bahkan memberi dampak langsung pada peningkatan tajam bisnis periklanan. Investasi oleh para pemodal asing rupanya membawa konsekuensi lain bagi periklanan. Para pemodal ini yang umumnya sudah terbiasa dengan sistem perekonomian dan perdagangan liberal, rupanya menuntut adanya pula sarana promosi dan periklanan yang baik di Indonesia.
Para praktisi periklanan umumnya berpendapat ada hubungan langsung antara aspek -aspek investasi,dan periklanan dalam arti yang luas. Karena itu, tuntutan para investor asing ini tentu saja wajar untuk mengamankan investasi mereka,dengan meningkatkan efisiensi produksi(mencapai tingkat skala ekonomi tertentu ) dan dengan dukungan promosi dan periklanan menjamin tercapainya sasaran-sasaran pemasara barang atau jasa yang mereka hasilkan. (Penyusun).
Sebagai perusahaan periklanan modern. InterVisa juga tercatat aktif dalam membantu kampanye-kampanye pemasaran sosial ( social marketing ) atau periklanan layanan masyarakat (public service advertising). Kampanye-kampanye ini merupakan sesuatu ayng baru bagi masyarakat Indonesia di masa itu.
Salah satu karya besar InterVisa yang bahkan tetap digunakan hingga saat ini adalah Kartu Menuju Sehat. Sebuah petunjuk sangat praktis bagi para ibu untuk memeriksa dan merawat kesehatan bayinya.
Munculnya InterVisa rupanya menjadi katalis bagi lahirnya banyak lagi perusahaan periklanan modern di Indonesia. Bahkan tahun 1969 berdiri pula Benson SH Ltd., perusahaan periklanan pertama yang berafiliasi dengan perusahaan periklanan asing di Indonesia. Perusahaan periklanan ini tadinya sekedar merupakan afilasi dari perusahaan yang sama di Singapura, tetapi kemudian dikembangkan menjadi afiliasi langsung dengan perusahaan periklanan induknya di New York dan berubah nama menjadi Ogilvy Benson & Mather Indonesia. Selanjutnya karena ada peraturan yang tidak mengizinkan perusahaan periklanan asing Indonesia, perusahaan ini mengubah statusnya menjadi perusahaan Indonesia, sekaligus mengganti namanya menjadi PT Indo Ad .
Sumber : www.pppi.or.id
0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda