Michael D Sudarto 'Terjerumus' di belantara iklan
Sore itu usai kesibukan rutinnya di kantor, Michael D Sudarto menemui tamunya di salah satu ruang pertemuan Puri Matari di kawasan Kuningan, Jakarta. Dia menyodorkan buku dengan cover warna biru langit bergambar sebuah papan besar di atas padang rumput hijau dengan tulisan Tanah Ini Milik Periklanan Indonesia.
Buku berjudul Rumah Iklan yang ditulis oleh Bondan Winarno itu merekam episode demi episode perjalanan Ken T Sudarto dan rumah iklan Matari serta upayanya menjadikan periklanan Indonesia sebagai tuan rumah di negeri sendiri.
Nama besar sang ayah, Ken T Sudarto, memang bukan hanya identik dengan perusahaan periklanan Matari Advertising, malainkan juga sejarah panjang bisnis periklanan modern di Tanah Air yang sejak zaman Belanda praktisinya didominasi bangsa asing.
Seperti sang pelopor, Michael mengaku juga mempunyai tekad yang sama untuk menjadikan perusahaan periklanan di Indonesia sebagai tuan rumah di negeri sendiri. Itulah sebabnya deputy president Matari Advertising ini memberikan perhatian penuh pada peningkatan SDM yang andal di bidangnya.
Di tengah maraknya serbuan perusahaan asing yang menggarap kue iklan di Indonesia, bapak dari dua orang putri ini bertekad agar perusahaan yang dipimpinnya tidak hanya mendapat kepercayaan dari klien, tetapi juga tetap bisa menerapkan falsafah bisnis yang disebut Panca Cita atau lima harapan yang ingin diwujudkan perusahaan.
"Lima harapan itu antara lain, kami ingin ikut berperan dalam pembangunan nasional dengan penuh rasa tanggung jawab, mengabdi pada kepentingan masyarakat dan menciptakan suasana kerja yang dilandasi rasa kekeluargaan," tuturnya.
Tidak mudah memang menerapkan nilai-nilai dasar yang sudah ditanamkan para pendahulunya itu. Yang jelas, perjalanan hidup Matari tetap eksis selama 37 tahun adalah buah dari penerapan Panca Cita itu.
Pedoman berkarya itu selalu menjadi acuan bagi praktisi yang berkarya di dalamnya terutama untuk menciptakan hasil yang bermutu, jujur, sesuai dengan lingkungan, dan bersungguh-sungguh mencerminkan pengabdian pada kepentingan masyarakat.
"Panca Cita itu juga memberikan kesempatan kepada setiap warganya untuk maju dan berkembang. Sejak berdiri komitmen terhadap pengembangan SDM memang tinggi dan kami menyediakan biaya bagi staf untuk terus melakukan personal development lewat pendidikan dan pelatihan hingga ke luar negeri."
Tidak heran di lingkungan insan ataupun industri periklanan, Matari mendapat julukan sebagai 'sekolah'nya para profesional unggulan di bidang ini.Hal ini selain dengan sengaja mendorong setiap individu untuk maju juga karena perusahaan menciptakan iklim kerja yang penuh dengan persaingan ketat dan sehat di lingkungan internal.
Seperti masuk dalam kawah candradimuka, para praktisi yang memiliki kemampuan dan kemauan untuk menggarap proyek klien dituntut siap belajar dan berlatih dari kasus-kasus yang dihadapi, sehingga bisa berkompetisi dan menghasilkan yang terbaik.
Michael termasuk orang yang mendapat kepercayaan untuk menyiapkan manajemen dan menciptakan daya saing di lingkungan internal. Mulai 2004 hingga sekarang dia merangkap jabatan sebagai president director Pantarei Communications yang otonom.
Mulai dari bawah
Di Pantarei dengan 80 staf, dia harus bersaing menghadapi perusahaan induk untuk menangani klien-klien sendiri, antara lain PT Softex Indonesia, Wismilak, Bank Mandiri, Hutchison Telecom Indonesia, Es Teller 77 dan produk pendidikan Bina Nusantara.
Kehadiran Michael di jajaran pimpinan Matari bukan semata-mata karena meneruskan bisnis sang ayah. Seperti pimpinan lainnya, diapun memulai kariernya dari bawah dan suami dari Rani Sofyan ini sejak 1992 bergabung dalam perusahaan.
"Sejak kecil memang sudah terjerumus pada dunia periklanan karena setiap aktivitas papa tak lepas dari urusan iklan atau perusahaan. Jadi, tamat SMA sambil kuliah di AS, saya gunakan waktu libur untuk magang dulu di Matari," tuturnya.
Di University of Minnesota, Michael belajar soal ekonomi dan statistik. Dia lalu kembali ke Matari menjadi account executive untuk direct marketing dan sales promotion. Pada 1997, dia kembali ke bangku kuliah. Kali ini untuk meraih master of science di bidang jurnalisme dan advertising.
Masih pada tahun yang sama, dia juga menimba pengalaman di perusahaan iklan di Inggris menjadi junior account executive di AMV BBDO, London. Kembali ke Tanah Air, kariernya di Matari setahun kemudian naik menjadi media executive lalu menjadi account manager dan pada 2001-2003 menjadi account director.
Sebagai orang yang dipercaya pula menangani masalah SDM di Matari, Michael merasa beruntung para senior yang berada di perusahaan berdiri pada 1971 adalah orang yang memiliki passion yang tinggi di bidang periklanan.
"Mereka sangat membantu proses alih generasi sehingga kami tidak sekadar tetap eksis tetapi juga harus tetap di ranking lima besar perusahaan periklanan di Indonesia untuk menjadi tuan rumah di negri sendiri."
Kini pihaknya berusaha menjaga kenyamanan bekerja yang sangat diperlukan oleh individu-individu di dalamnya untuk berkreativitas secara optimal serta menciptakan suasana kerja yang dilandasi rasa kekeluargaan dan tanggung jawab untuk menyatukan latar belakang, keahlian dan ketrampilan yang berbeda.
"Kita hidup harus punya tanggung jawab, sebagai seorang ayah, kepala keluarga, sebagai karyawan pun punya tanggung jawab profesional untuk mencapai target-target yang ingin dicapai,"
Rasa tanggung jawab inilah yang perlu ditanamkan sejak usia dini. Ayah dari Allegra Divya yang berumur 10 tahun dan Alexa Divya, 7, ini memilih berkunjung ke panti asuhan, ke komunitas keagamaan, ke vihara, pesantren, dan gereja sebagai bentuk tanggung jawab individu bahwa dalam harta si kaya ada hak si miskin.
sumber:
Hilda Sabri Sulistyo
Bisnis Indonesia
Buku berjudul Rumah Iklan yang ditulis oleh Bondan Winarno itu merekam episode demi episode perjalanan Ken T Sudarto dan rumah iklan Matari serta upayanya menjadikan periklanan Indonesia sebagai tuan rumah di negeri sendiri.
Nama besar sang ayah, Ken T Sudarto, memang bukan hanya identik dengan perusahaan periklanan Matari Advertising, malainkan juga sejarah panjang bisnis periklanan modern di Tanah Air yang sejak zaman Belanda praktisinya didominasi bangsa asing.
Seperti sang pelopor, Michael mengaku juga mempunyai tekad yang sama untuk menjadikan perusahaan periklanan di Indonesia sebagai tuan rumah di negeri sendiri. Itulah sebabnya deputy president Matari Advertising ini memberikan perhatian penuh pada peningkatan SDM yang andal di bidangnya.
Di tengah maraknya serbuan perusahaan asing yang menggarap kue iklan di Indonesia, bapak dari dua orang putri ini bertekad agar perusahaan yang dipimpinnya tidak hanya mendapat kepercayaan dari klien, tetapi juga tetap bisa menerapkan falsafah bisnis yang disebut Panca Cita atau lima harapan yang ingin diwujudkan perusahaan.
"Lima harapan itu antara lain, kami ingin ikut berperan dalam pembangunan nasional dengan penuh rasa tanggung jawab, mengabdi pada kepentingan masyarakat dan menciptakan suasana kerja yang dilandasi rasa kekeluargaan," tuturnya.
Tidak mudah memang menerapkan nilai-nilai dasar yang sudah ditanamkan para pendahulunya itu. Yang jelas, perjalanan hidup Matari tetap eksis selama 37 tahun adalah buah dari penerapan Panca Cita itu.
Pedoman berkarya itu selalu menjadi acuan bagi praktisi yang berkarya di dalamnya terutama untuk menciptakan hasil yang bermutu, jujur, sesuai dengan lingkungan, dan bersungguh-sungguh mencerminkan pengabdian pada kepentingan masyarakat.
"Panca Cita itu juga memberikan kesempatan kepada setiap warganya untuk maju dan berkembang. Sejak berdiri komitmen terhadap pengembangan SDM memang tinggi dan kami menyediakan biaya bagi staf untuk terus melakukan personal development lewat pendidikan dan pelatihan hingga ke luar negeri."
Tidak heran di lingkungan insan ataupun industri periklanan, Matari mendapat julukan sebagai 'sekolah'nya para profesional unggulan di bidang ini.Hal ini selain dengan sengaja mendorong setiap individu untuk maju juga karena perusahaan menciptakan iklim kerja yang penuh dengan persaingan ketat dan sehat di lingkungan internal.
Seperti masuk dalam kawah candradimuka, para praktisi yang memiliki kemampuan dan kemauan untuk menggarap proyek klien dituntut siap belajar dan berlatih dari kasus-kasus yang dihadapi, sehingga bisa berkompetisi dan menghasilkan yang terbaik.
Michael termasuk orang yang mendapat kepercayaan untuk menyiapkan manajemen dan menciptakan daya saing di lingkungan internal. Mulai 2004 hingga sekarang dia merangkap jabatan sebagai president director Pantarei Communications yang otonom.
Mulai dari bawah
Di Pantarei dengan 80 staf, dia harus bersaing menghadapi perusahaan induk untuk menangani klien-klien sendiri, antara lain PT Softex Indonesia, Wismilak, Bank Mandiri, Hutchison Telecom Indonesia, Es Teller 77 dan produk pendidikan Bina Nusantara.
Kehadiran Michael di jajaran pimpinan Matari bukan semata-mata karena meneruskan bisnis sang ayah. Seperti pimpinan lainnya, diapun memulai kariernya dari bawah dan suami dari Rani Sofyan ini sejak 1992 bergabung dalam perusahaan.
"Sejak kecil memang sudah terjerumus pada dunia periklanan karena setiap aktivitas papa tak lepas dari urusan iklan atau perusahaan. Jadi, tamat SMA sambil kuliah di AS, saya gunakan waktu libur untuk magang dulu di Matari," tuturnya.
Di University of Minnesota, Michael belajar soal ekonomi dan statistik. Dia lalu kembali ke Matari menjadi account executive untuk direct marketing dan sales promotion. Pada 1997, dia kembali ke bangku kuliah. Kali ini untuk meraih master of science di bidang jurnalisme dan advertising.
Masih pada tahun yang sama, dia juga menimba pengalaman di perusahaan iklan di Inggris menjadi junior account executive di AMV BBDO, London. Kembali ke Tanah Air, kariernya di Matari setahun kemudian naik menjadi media executive lalu menjadi account manager dan pada 2001-2003 menjadi account director.
Sebagai orang yang dipercaya pula menangani masalah SDM di Matari, Michael merasa beruntung para senior yang berada di perusahaan berdiri pada 1971 adalah orang yang memiliki passion yang tinggi di bidang periklanan.
"Mereka sangat membantu proses alih generasi sehingga kami tidak sekadar tetap eksis tetapi juga harus tetap di ranking lima besar perusahaan periklanan di Indonesia untuk menjadi tuan rumah di negri sendiri."
Kini pihaknya berusaha menjaga kenyamanan bekerja yang sangat diperlukan oleh individu-individu di dalamnya untuk berkreativitas secara optimal serta menciptakan suasana kerja yang dilandasi rasa kekeluargaan dan tanggung jawab untuk menyatukan latar belakang, keahlian dan ketrampilan yang berbeda.
"Kita hidup harus punya tanggung jawab, sebagai seorang ayah, kepala keluarga, sebagai karyawan pun punya tanggung jawab profesional untuk mencapai target-target yang ingin dicapai,"
Rasa tanggung jawab inilah yang perlu ditanamkan sejak usia dini. Ayah dari Allegra Divya yang berumur 10 tahun dan Alexa Divya, 7, ini memilih berkunjung ke panti asuhan, ke komunitas keagamaan, ke vihara, pesantren, dan gereja sebagai bentuk tanggung jawab individu bahwa dalam harta si kaya ada hak si miskin.
sumber:
Hilda Sabri Sulistyo
Bisnis Indonesia
0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda