05/11/08

Michael D Sudarto 'Terjerumus' di belantara iklan

Sore itu usai kesibukan rutinnya di kantor, Michael D Sudarto menemui tamunya di salah satu ruang pertemuan Puri Matari di kawasan Kuningan, Jakarta. Dia menyodorkan buku dengan cover warna biru langit bergambar sebuah papan besar di atas padang rumput hijau dengan tulisan Tanah Ini Milik Periklanan Indonesia.

Buku berjudul Rumah Iklan yang ditulis oleh Bondan Winarno itu merekam episode demi episode perjalanan Ken T Sudarto dan rumah iklan Matari serta upayanya menjadikan periklanan Indonesia sebagai tuan rumah di negeri sendiri.
Nama besar sang ayah, Ken T Sudarto, memang bukan hanya identik dengan perusahaan periklanan Matari Advertising, malainkan juga sejarah panjang bisnis periklanan modern di Tanah Air yang sejak zaman Belanda praktisinya didominasi bangsa asing.
Seperti sang pelopor, Michael mengaku juga mempunyai tekad yang sama untuk menjadikan perusahaan periklanan di Indonesia sebagai tuan rumah di negeri sendiri. Itulah sebabnya deputy president Matari Advertising ini memberikan perhatian penuh pada peningkatan SDM yang andal di bidangnya.
Di tengah maraknya serbuan perusahaan asing yang menggarap kue iklan di Indonesia, bapak dari dua orang putri ini bertekad agar perusahaan yang dipimpinnya tidak hanya mendapat kepercayaan dari klien, tetapi juga tetap bisa menerapkan falsafah bisnis yang disebut Panca Cita atau lima harapan yang ingin diwujudkan perusahaan.
"Lima harapan itu antara lain, kami ingin ikut berperan dalam pembangunan nasional dengan penuh rasa tanggung jawab, mengabdi pada kepentingan masyarakat dan menciptakan suasana kerja yang dilandasi rasa kekeluargaan," tuturnya.
Tidak mudah memang menerapkan nilai-nilai dasar yang sudah ditanamkan para pendahulunya itu. Yang jelas, perjalanan hidup Matari tetap eksis selama 37 tahun adalah buah dari penerapan Panca Cita itu.
Pedoman berkarya itu selalu menjadi acuan bagi praktisi yang berkarya di dalamnya terutama untuk menciptakan hasil yang bermutu, jujur, sesuai dengan lingkungan, dan bersungguh-sungguh mencerminkan pengabdian pada kepentingan masyarakat.
"Panca Cita itu juga memberikan kesempatan kepada setiap warganya untuk maju dan berkembang. Sejak berdiri komitmen terhadap pengembangan SDM memang tinggi dan kami menyediakan biaya bagi staf untuk terus melakukan personal development lewat pendidikan dan pelatihan hingga ke luar negeri."
Tidak heran di lingkungan insan ataupun industri periklanan, Matari mendapat julukan sebagai 'sekolah'nya para profesional unggulan di bidang ini.Hal ini selain dengan sengaja mendorong setiap individu untuk maju juga karena perusahaan menciptakan iklim kerja yang penuh dengan persaingan ketat dan sehat di lingkungan internal.
Seperti masuk dalam kawah candradimuka, para praktisi yang memiliki kemampuan dan kemauan untuk menggarap proyek klien dituntut siap belajar dan berlatih dari kasus-kasus yang dihadapi, sehingga bisa berkompetisi dan menghasilkan yang terbaik.
Michael termasuk orang yang mendapat kepercayaan untuk menyiapkan manajemen dan menciptakan daya saing di lingkungan internal. Mulai 2004 hingga sekarang dia merangkap jabatan sebagai president director Pantarei Communications yang otonom.
Mulai dari bawah
Di Pantarei dengan 80 staf, dia harus bersaing menghadapi perusahaan induk untuk menangani klien-klien sendiri, antara lain PT Softex Indonesia, Wismilak, Bank Mandiri, Hutchison Telecom Indonesia, Es Teller 77 dan produk pendidikan Bina Nusantara.
Kehadiran Michael di jajaran pimpinan Matari bukan semata-mata karena meneruskan bisnis sang ayah. Seperti pimpinan lainnya, diapun memulai kariernya dari bawah dan suami dari Rani Sofyan ini sejak 1992 bergabung dalam perusahaan.
"Sejak kecil memang sudah terjerumus pada dunia periklanan karena setiap aktivitas papa tak lepas dari urusan iklan atau perusahaan. Jadi, tamat SMA sambil kuliah di AS, saya gunakan waktu libur untuk magang dulu di Matari," tuturnya.
Di University of Minnesota, Michael belajar soal ekonomi dan statistik. Dia lalu kembali ke Matari menjadi account executive untuk direct marketing dan sales promotion. Pada 1997, dia kembali ke bangku kuliah. Kali ini untuk meraih master of science di bidang jurnalisme dan advertising.
Masih pada tahun yang sama, dia juga menimba pengalaman di perusahaan iklan di Inggris menjadi junior account executive di AMV BBDO, London. Kembali ke Tanah Air, kariernya di Matari setahun kemudian naik menjadi media executive lalu menjadi account manager dan pada 2001-2003 menjadi account director.
Sebagai orang yang dipercaya pula menangani masalah SDM di Matari, Michael merasa beruntung para senior yang berada di perusahaan berdiri pada 1971 adalah orang yang memiliki passion yang tinggi di bidang periklanan.
"Mereka sangat membantu proses alih generasi sehingga kami tidak sekadar tetap eksis tetapi juga harus tetap di ranking lima besar perusahaan periklanan di Indonesia untuk menjadi tuan rumah di negri sendiri."
Kini pihaknya berusaha menjaga kenyamanan bekerja yang sangat diperlukan oleh individu-individu di dalamnya untuk berkreativitas secara optimal serta menciptakan suasana kerja yang dilandasi rasa kekeluargaan dan tanggung jawab untuk menyatukan latar belakang, keahlian dan ketrampilan yang berbeda.
"Kita hidup harus punya tanggung jawab, sebagai seorang ayah, kepala keluarga, sebagai karyawan pun punya tanggung jawab profesional untuk mencapai target-target yang ingin dicapai,"
Rasa tanggung jawab inilah yang perlu ditanamkan sejak usia dini. Ayah dari Allegra Divya yang berumur 10 tahun dan Alexa Divya, 7, ini memilih berkunjung ke panti asuhan, ke komunitas keagamaan, ke vihara, pesantren, dan gereja sebagai bentuk tanggung jawab individu bahwa dalam harta si kaya ada hak si miskin.

sumber:
Hilda Sabri Sulistyo
Bisnis Indonesia

Semarak Dunia Agency

Belakangan ini agency menjadi industri yang paling diminati di Jakarta. Konon, gaya hidup penuh hura-hura dan kemewahan meliputi dunia ini. Praktisinya pun terkenal ‘gila kerja’ dan penganut paham ‘ajeg-ajeg, suka-suka semau gue’. Benarkah?

Sebenarnya ada apa sih di balik industri ini? Mengapa para profesional Jakarta tampak berlomba-lomba menggelutinya?
Edisi kali ini akan mengungkapkan kehebohan dunia agency, supaya kamu yang tertarik atau penasaran pada dunia ini bisa dapat gambaran.

Dalam bahasa Indonesia, agency diartikan sebagai agen atau peratara. Dalam prakteknya sendiri, agency meliputi beberapa bidang, termasuk Advertising Agency (Biro Iklan), Media Agency, dan Talent Agency. Selain itu, agency juga bersentuhan, bahkan acap kali, membelah diri menjadi bidang-bidang lain, seperti Production House (PH), Public Relation (PR), dan Event Organizer (EO).

ADVERTISING AGENCY
Advertising agency pertama kali berkembang di belahan dunia Eropa-Amerika pada abad ke-19 sebagai imbas dari era kapitalisme. Di Indonesia, industri ini mulai bermunculan pada tahun 70-an dan semakin marak ketika stasiun TV pertama hadir di Indonesia. Lwin dan Aitchison dalam buku mereka yang berjudul Clueless in Advertising mendeskripsikan advertising atau iklan sebagai elemen penting dalam mengomunikasikan sesuatu (produk, brand, atau pesan) kepada konsumen melalui media.

Di dalam tubuh Advertising terdapat departemen-departemen utama yang saling mendukung, yaitu Media Service, Account Service, dan Creative Department.

Advertising pun ada yang memberikan full service, yaitu yang menangani keseluruhan materi iklan, mulai dari strategi, kampanye promosi dan pembuatan iklan itu sendiri, sampai ke media. Jenis seperti ini biasa dipegang oleh agency multinasional, seperti BBDO, Ogilvy & Mather, dan McCann Erickson.

Ada pula agency jenis kedua yang biasa disebut specialist agency, yang menangani salah satu bidang tertentu saja, biasanya bidang media atau kreatif saja. Bidang kreatif ada yang hanya memberi service tertentu, misalnya above-the-line (iklan-iklan di surat kabar, majalah, televisi, radio, poster, dan lain-lain) saja, atau below-the-line (promosi-promosi lain yang menunjang kampanye iklan yang tidak menggunakan media, seperti sales promotions, merchandising, dan lain-lain).

Advertising sering kali disarukan dengan Public Relations (PR). Memang kedua industri ini sama-sama mengomunikasikan sesuatu kepada publik.Tetapi ada perbedaan mendasar antara advertising dengan PR, yaitu PR tidak membeli space media dan PR tidak menjual sesuatu.

Client Service Department
Departemen ini adalah departemen yang berhubungan langsung dengan klien. Oleh karena itu, praktisinya sering disebut sebagai front liner yang merupakan bagian penting dari sebuah advertising agency. Tugas seorang Account Service atau Account Executive (AE) tidak sekedar men-service klien, tetapi juga bertanggung jawab sepenuhnya terhadap kelancaran marketing dan bisnis klien. Seorang AE yang baik peduli terhadap permasalahan bisnis klien, dapat menganalisisnya, kemudian membuat strategi dan brief yang baik untuk pihak kreatif agar permasalahan tersebut mendapatkan solusi, berupa materi iklan yang kreatif yang mampu mendongkrak penjualan, maupun image produk klien tersebut.

Tingkatan Karir dan Job Desk:
1.Junior Account Executive
2.Account Executive
3.Senior Account Executive
4.Assistant Account manager: Membantu Account manager untuk client handling, menganalisis brand, membuat strategi komunikasi, menulis creative brief, media brief, dan lain-lain.
5.Account Manager: Client handling, menganalisis brand, membuat strategi komunikasi, menulis creative brief, media brief, dan lain-lain.
6.Associate Account Director
7.Account Director: Menganalisis brand dan merencanakan strategi komunikasi yang efektif untuk brand itu. Selain itu juga client hunting.
8.Account Group Director: Membawahi beberapa Account Director.
9.Account Management Director: Membawahi semua divisi Client Service, menyusun target dan mencapainya.

Creative Department
Creative Department atau divisi kreatif merupakan tim yang terdiri dari Copywriter dan Art Director.Tugas mereka mencari dan membuat ide serta konsep bagi kampanye iklan produk yang akan dijual kepada klien. Tugas mereka sangat berat dengan multiple deadline yang sangat ketat dan membutuhkan konsentrasi tinggi. Brainstrom (proses pengumpulan ide oleh tim) dan pitch (semacam tender antar-adv, yaitu adu kreativitas untuk memenangkan sebuah brand) adalah makanan mereka sehari-hari. Oleh karena itu, sering kali orang-orang kreatif dianggap unik dan aneh.

Menurut Creative Director MACS 909 Agency yang menangani iklan-iklan seperti Djarum Black, Sutra Kondom, Matahari, KitKat, Permen Polo, dan Foxs bekerja di advertising sangat menantang dan menegangkan. Banyak asyik, tapi tidak sedikit pula tidak enaknya. ”Asyiknya ketika kita bisa menciptakan hal-hal baru yang kreatif, apalagi kalau ide-ide tersebut diterima oleh klien. Terlebih lagi, kalau ide-ide kita jadi bahan pembicaraan orang. Diapresiasi oleh masyarakat, kemudian mendapat penghargaan dari sisi kreativitas. Waaaaaaahhhh...,” kata laki-laki yang banyak mendapat penghargaan kreatif, baik emas, perak, maupun perunggu di Citra Pariwara, Phinastika Award, dan AdDone Award. Sebaliknya, tidak enaknya adalah apabila ide kita ditolak klien. Deadline yang sangat ketat juga menjadi masalah, apalagi ketika ide sedang mentok.

Tingkatan karir dan Job Desk:
1.Junior Copywriter & Junior Art Director
2.Senior Copywriter & Senior Art Director, bertugas untuk menyusun konsep dan mengeksekusi materi kreatif. Copywriter bertanggung jawab pada penulisan naskah dan Art Director lebih bertanggung jawab pada visual. Tapi, kedua-duanya adalah orang tua kandung dari sebuah karya kreatif.
3.Creative Group Head, mengoordinir Copywriter dan Art Director dalam menyusun dan mengeksekusi materi kreatif, juga memastikan semua selesai dalam kerangka deadline yang sudah ditentuin. Dia juga bertanggung jawab dalam kualitas (quality control).
4.Associate Creative Director, membantu Creative Director mengarahkan tim kreatifnya, dalam menyusun konsep dan mengeksekusi karya kreatif, menjaga kualitas kreatif, menyusun dan mencapai target kreatif, dan lain-lain.
5.Creative Director: Mengarahkan tim kreatifnya, dlm menyusun konsep dan mengeksekusi karya kreatif, menjaga kualitas kreatif, menyusun dan mencapai target kreatif, dan lain-lain.
6.Executive Creative Director: Membawahi divisi kreatif.

MEDIA AGENCY/MEDIA BROKER
Media Department bertugas membuat rancangan strategi media yang efektif bagi klien serta bernegosiasi dengan media. Departemen ini kini mulai memisahkan diri dari divisi kreatif dan account management, kemudian mulai berdiri sendiri. Di Jakarta terdapat media agency besar seperti Mindshare, Initiative, Megapro, dan lain-lain.

Tingkatan Karir dan Job Desk:
1.Media Planner (junior sampai senior): Membuat perencanaan media placement materi kreatif dari sebuah brand, secara efektif dan efisien).
2.Media Buyer (junior sampai senior): Melakukan negosiasi dan melakukan pembelian space media).
3.Media Group Head: Mengoordinir kedua di atas.
4.Assistant Media Manager
5.Media Manager
6.Associate Media Director
7.Media Director

Dari keseluruhan divisi ini nanti berkesempatan untuk masuk ke karir berikutnya, yaitu: General Manager, Managing Director, Vice President, lalu President Director.

TALENT/MODEL AGENCY
Talent/Model Agency menunjang kedinamisan dan semaraknya dunia entertainment. Agency ini memberikan jasa pelayanan yang berhubungan dengan apa pun yang menggunakan jasa model. Sebuah talent/model agency mengatur fee (imbalan jasa), sampai membuatkan jadwal kerja para model, juga menjamin profesionalitas modelnya. Talent agency besar di Jakarta, misalnya Look Models sudah merambah industri lain, yaitu event organizer, TV production, dan lain-lain.

Event Organizer (EO) menangani penyelenggaraan sebuah acara. EO yang baik memiliki tenaga-tenaga profesional yang bertanggung jawab terhadap keseluruhan acara mulai dari konsep, penyelenggaraan sampai detil terkecil sebuah acara.

Adv sering bersentuhan dengan EO saat mengadakan product launching atau annual meeting yang biasanya juga termasuk bagian dalam sebuah kampanye iklan. Selain itu, perusahaan lain yang memiliki andil cukup besar dalam industri ini adalah Production House (PH) yang mengurus pembuatan TV commercial dan lain-lain.

Yang Perlu Ada pada Praktisi Agency:
1.Minat besar dan semangat yang tinggi. Daya kreativitas untuk menghasilkan ide-ide kreatif akan mengikuti bila sudah memiliki gairah yang tinggi yang akan membuka cakrawala ide kreatif kita menjadi luas. Semangat yang tinggi akan membuat kita terus berlatih dan berlatih.
2.Ide-ide kreatif yang orisinal, bukan yang pernah dibuat orang lain. Kita harus dapat melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda (out of the box).
3.Kita juga harus bisa menjadi trendsetter, menciptakan tren baru, bukan mengikuti tren yang sudah ada. Hal tersebut tidak akan mereka dapatkan jika hanya duduk diam di kantor. Kita harus mengetahui segala informasi terkini, tapi tidak takluk pada patern atau mode. Selalu peka terhadap lingkungan: tren, perkembangan jaman, dan apapun yang ada di sekitar kita. Karena itulah sumber ide-ide kita.
4.Berdedikasi tinggi, sebab seorang praktisi yang berhubungan dengan dunia agency terkadang harus merelakan seluruh waktunya demi kerja.
5.Menguasai teknik presentasi. Dengan teknik presentasi yang baik, kita dapat mengantarkan ide kita dan mendapat apresiasi dari klient.

Maka, tak dapat dipungkiri dunia glamour, lifestyle, dan entertainment memang akrab dengan industri ini, tetapi bukan itu saja. High pressure, long office hours, dan multiple deadlines yang sangat memanipulasi daya pikir juga dekat dengan kehidupan mereka. Bagaimana, merasa tertantang untuk bekerja di dunia agency?

sumber : http://www.erlangga.co.id